Kamis, 12 April 2018

Entahlah

1. Kecewa tapi tak mengeluh.
2. Terjatuh tapi tidak berhenti.
3. Sesak tapi tidak menyerah.
4. Marah tapi tidak membenci.
5. Sakit tapi tidak membalas.
6. Sedih tapi tidak berlarut-larut.
7. Dan terakhir, kehilangan tapi tidak berputus-asa.

Sebuah paket

Untuk yang telah mengirimkannya,
Sebuah paket kuterima pagi ini. Paket yang terlalu dini. Sesuatu yang tak pernah kuminta, tapi Si Pengirim lebih mengerti waktu yang paling tepat untuk memberikannya. Mungkin Dia tahu aku sudah siap menerimanya, mungkin Dia tahu kalau aku membutuhkannya. Mungkin Dia tahu kalau dua lebih baik daripada satu.
Sepaket yang jauh dari sempurna. Bingkisannya hanya dibalut oleh kesederhanaan. Diisi oleh hati yang utuh, senyuman yang mampu membuatku luluh, tawa yang membuat awan kelabu dalam hari-hariku lumpuh dan perjalanan pikirannya yang begitu ingin kutelusuri. Kabut asing yang menyelimutinya kini luput oleh sebuah perkenalan. Lewat peristiwa-peristiwa buatan Dia yang begitu magis, sekaligus manis. Ikatan-ikatan lain pun mendekatkan lewat berulang kali pertemuan. Aku hanya belum tahu kalau paket itu akan benar-benar sampai ke rumah yang tepat; hatiku.
Diatas paket itu tertulis sebuah nama yang tak asing, nama yang selalu membuat telingaku jeli saat semesta membicarakannya, nama yang begitu mudah mengirimkan kebahagiaan, nama yang membuat kekagumanku begitu pekat. Sepaket yang begitu manis sudah tiba di depanku. Satu hal yang terlintas dalam kepala saat menemukannya, “Aku ingin menjaganya”.
Terima kasih sudah mengirimkan pria ini untuk kujaga hatinya. Terima kasih sudah memilihku untuk jadi perempuannya. Terima kasih telah mempersatukan kami, Tuhan. Terima kasih karena Kau selalu mengerti, jauh lebih mengerti dari apa yang biasa kepala ini terka-terka. Terima kasih untuk paket-paket masa lalu yang pernah kau pindahkan haluan, karena kini aku sudah benar-benar menemukan yang terbaik. Terima kasih untuk cinta yang masih tersedia untuk kami berdua. Tuhan, tetaplah menjadi perantara.
Yang sedang berbahagia.

Nasehat lama

Orang tua dulu sering menasihati:
Nak, jika orang lain memaki kita; maka tutup kuping kita, jangan dengarkan.
Jika orang lain kasar, nyolot, marah2 di depan kita; maka balik kanan, tinggalkan.
Jika orang lain menuduh ini, itu, dan itu bohong semua; maka sibukkan diri dengan hal positif, jangan tanggapi....
Jika orang lain merendahkan kita, menjelek2an kita; maka semangatlah terus bekerja, jangan mau malah jadi bad mood.
Apapun yang orang lain katakan, jangan biarkan merusak hari ini. Karena hidup ini sudah banyak pekerjaan yg harus diselesaikan, tidak perlu ditambahi dengan menanggapi orang2 penuh masalah hidupnya.

Nagih hutang

Banyak orang yang berhutang itu, ternyata bisa beli ini, beli itu, jalan2 ke sini, jalan2 ke sana, eh, pas ditagih hutangnya, susah banget. Malah dimarahin yang nagih.
Juga banyak orang yang janji, misalnya janji akan membahagiakan pasangan selama2nya, dia sih selalu bisa membahagiakan dirinya sendiri, tapi pas ditagih sama pasangannya, eh, dia ngamuk2.
Termasuk pula janji2 dalam bentuk lain. Kayaknya enak banget ngomongnya, sambil pamer sudah begini, sudah begitu, seolah semua hebat, tapi pas ditagih janji yang jelas2 dia ucapkan sendiri, aduh, yang galak dan tersinggung buanyak.

hati-hati membuat kesalahan

Orang lain memang memaafkan kita. Tapi boleh jadi, dia tidak pernah melupakan apa yang telah terjadi, kalimat kita yang telah dikatakan, perbuatan kita yang telah dilakukan. Mereka memaafkan, tapi tidak melupakan.
Maka berhati2lah membuat kesalahan dalam hidup ini.